Breaking News
Ikan Pundang, Oleh-Oleh ikan Khas Pesisir Berau

Ikan Pundang, Oleh-Oleh ikan Khas Pesisir Berau

Pulau Derawan, yang sudah tersohor sampai ke penjuru dunia, ternyata tak hanya menyimpan potensi keindahan pemandangan bawah lautnya, namun dibalik eksotime terumbu karanga dan pasir pantainya, masih ada lagi sisi lainnya yang sebenaranya juga perlu diketahui oleh wisatawan, terutama pecinta kuliner.

Jika selama ini banyak yang berkata bahwa tak lengkap berkunjung ke ke pulau dengan luas 44,6 hektare itu jika tak melihat langsung gugusan terumbu karang di bawah lautnya, mungkin anggapan  itu perlu ditambah lagi, tak afdol rasanya jika pulang dari Derawan tanpa membawa ikan pundang.

Ikan Pundang sendiri merupakan salah satu hasil laut yang dijajakan oleh masyarakat Pulau Derawan di beberapa sudut jalan kampung yang membelah tempat tersebut.  

Meski sekilas bentuknya sama dengan jenis hasil laut yang diasinkan dan juga turut dijajakan di warung-warung kecil di wilayah tersebut, namun sebenarnya ada perbedaan cukup signifikan yang membuatanya cukup banyak digemari oleh wisatawan.

Tekstur daging ikan pundang ini sedikit berlemak meski telah mengalami penjemuran, merupakan salah satu ciri khas yang berasal dari penegringan ikan indangan  ini.

Konon daging yang sedikit berlemak inilah yang membuatanya mempunyai rasa sedikit berbeda ketika diolah di dapur, apalagi jika dibakar diatas arang yang membuaat aromanya menyebar terbawa angin sampai radius beberapa meter.

Uniknya ikan pundang ini murni diawetkan dengan sinar terik matahari tanpa menggunakan bahan kimia sedikitpun, termasuk garam. Pengeringan ikan ini membutuhkan waktu lebih dari seminggu sehingga aromanya cukup menyengat.

HJ Reni salah satu pengerajin pembuat ikan Pundang ini menuturkan,bisa jadi lemak yang keluar dari ikan pundang  karena memang berasal dari tekstur dari ikan tersebut yang mengandung lemak.

Saat pembuatan ikan pundangini dirinya menggunkan cara berbeda dibandingkan ketika menggarap ikan asin jenis lainnya, yang utama keika dijemur ia tak perlu lagi menambahkan garam dan hanya sekedar dilakukan penjemuran dibawah terik sinar matahari.

Rasa asin yang muncul dari rasa ikan tersebut diakibatkan karena aliran udara sekitarnya yang memang dekat dengan bibir pantai sehingga juga mempengaruhi cita rasa ikan.

Hj Reni mengaku sudah membuat ikan Pundang ini sejak tahun 80 an, yang meruakan usaha turunan dari orangtunya dan kemudian dilanjutkan oleh dirinya.

Awalnya memang ikan pundang merupakan salah satu ciri khas ikan yang dibuat oleh suku Bajau, suku penjelajah lautan  yang juga komunitas pertama yang mendiami Pulau Derawan.

Hal tersebut lanjut Reni juga bisa dibuktikan karena ikan sejenis juga terdapat di salah satu daerah di Philipina yang mayoritas penduduknya juga diisi oleh masyarkat suku bajau.

Seiring waktu berjalan suku-suku lainnya juga  banyak yang belajar mengolah ikan ini untuk dijadikan ikan Pundang dan dijual ke masyarakat. “Yang bikin pertama kali memang orang bajau terus turun temurun diajarakan ke anak cucucnya, dan akhirnya dari suku lain juga banyak yang belajar juga,” katanya.

Namun produsen terbesar dari ikan pundang ini tetap saja terdapat di pulau Derawan, dan bahkan di luar pulau ini hanya sedikit tempat yang menjual ikan jenis ini.

Beberapa tahun lalu Reni sebenaranya mencoba memasukan komoditas ini ke pasar Sanggam Aji Dilayas yang merupakan pasar induk terbesar di bumi batiwakkal, namun karena tidak ada kecocokan harga ia kebih memilih memasarakannya langsung di kios kecil depan rumahnya.

Meski mengaku keuntungannya tak terlau besar, namun banyaknya pembeli yang mampir terutama para wisatawan yang berasal dari luar daerah seperti Tarakan dan Bulungan membuat usahanya tetap berjalan sampai dengan saat ini.

Untuk mengolah dari ikan basah menjadi ikan kering Reni bekerjasama dengan suaminya, dimana sekali produksi ia menghabiskan 100 kilogram, yang ketika dikerinkan tentu saja menyusuat hanya tinggal sekitar 40 kg  Ikan Pundang yang dijualnya Rp 10 ribu perpotongnya tergantung dari berat dan ukuran ikan pundang sendiri.

Saat ini, tambah Reni di pulau Derawan hanya tinggal beberapa orang yang menekuni usaha pembuatan ikan pundang, rata-rata dari mereka memang memilih untuk mengolah hasil laut dari jenis lain, karena tak tahan dengan bau yang cukup amis ketika ikan masih dalam kondisi basah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top